Value Bertambah, Harga Bisa Diupgrade

Paradoks Teh Botol

Apa yang membedakan antara Teh Botol yang dijual di pedagang asongan, di warung makan kecil, food court-food court modern, resto cepat saji atau pun restoran-restoran besar? Apakah ada yang lebih manis? Atau ada yang kuantitinya lebih sedikit? Jawabannya tentu tidak. Secara fisik, semua terlihat sama, kemasan, warna teh, tingkat kemanisannya, dst. Ya tentu saja, karena memang itu benda yang sama dan sudah melewati proses QC yang sama.

Jpeg

Lalu pertanyaannya, kenapa ada Teh Botol yang dibanderol dengan harga Rp. 3.000,- , Rp. 3.500,-, Rp. 4.000,- Rp. 5.000,- Rp. 6.000,- atau bahkan lebih. Dan biasanya, sudah mahal kena PPN pula. Kenapa disparitas harga itu bisa terjadi? Apakah karena “ketidakprofesionalan” manajemen Sosro? Jawabannya tentu tidak.

Para pemilik toko dan warung makan menaikkan harga atau menetapkan harga tertentu berdasarkan value yang mereka berikan. Sebab pada sebagian besar cafe/food court/resto itu tidak hanya menjual Teh Botol, tetapi mereka “menjual” kenyamanan, dan experience dalam menikmati hidangan di restoran mereka.

Added value seperti ini yang kadang dilupakan para pebisnis atau marketer. Bahwa dengan added value tertentu kita bisa menjual dengan harga lebih tinggi atau lebih mahal dari kompetitor, bahkan untuk benda yang jelas-jelas sama. Demikian pula peranan desain dalam bisnis sebuah perusahaan. Desain company profile, desain kemasan, desain logo, desain POS materials, dll berfungsi meningkatkan added value sebuah produk/brand. Dengan desain yang terlihat profesional, maka persepsi konsumen/klien akan meningkat sehingga mereka bisa menerima mengapa kita menetapkan sebuah harga tertentu.

Simple Studio Online ilustrasi desain order sekarang desain kemasan produk

Keunggulan Added Value

Salah satu keunggulan added value yang dirancang profesional adalah bahwa pertambahan harga jual bisa sangat tinggi melampaui “modal” yang kita keluarkan dalam “membeli” added value tersebut. Sebagai contoh misalnya, ketika sebuah perusahaan harus membayar 8juta lebih untuk sebuah desain company profile. Namun dengan tampilan yang sangat profesional, klien menjadi “percaya” kalau harga produk/jasa yang kita tawarkan kita naikkan 2-3 kali lipat.

Hal ini juga bisa berlaku di industri B2C, misalnya untuk kasus makanan ringan. Ketika kita menggunakan kemasan seadanya, dan produk kita dihargai tak lebih dari Rp. 3.000,-. Namun dengan menambah modal (untuk desain dan produksi) kemasan yang profesional sebesar kira-kira Rp. 2.000,-/pcs, kita bisa menjual produk itu Rp. 10.000,-

Untuk bisa memahami ini dibutuhkan ilmu, keberanian dan juga kemauan menerima hal baru dalam bisnis. Sebab kadang seorang pebisnis/marketer begitu sombongnya dalam menerima masukan dan merasa bahwa pencapaiannya selama ini dan apa yang sudah dilakukan sudah “benar”.

Simple Studio Online ilustrasi desain pesan desain company profile

Comments are closed.